MediaSuaraMabes, Tangerang – Panitia Musyawarah Daerah (Musda) Pertama Pemuda Batak Bersatu (PBB) Provinsi Banten sukses menyelenggarakan Uji Kepatutan dan Kelayakan (Fit and Proper Test) bagi calon Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) periode 2026-2031. Acara yang berlangsung di Gedung Aula Gereja HKBP Kuta Jaya, Pasar Kemis, Tangerang pada Jumat (01/05) ini berjalan lancar, aman, dan penuh kekeluargaan.
Dua sosok putra terbaik Batak, Bapak St. Ridu Sinaga (Mantan Ketua DPC Kabupaten Tangerang) dan Bapak Todo Nainggolan (Pembina PAC Balaraja), resmi bertarung memperebutkan kursi kepemimpinan PBB Banten. Panitia menegaskan bahwa uji kelayakan ini bukan sekadar formalitas, melainkan instrumen krusial untuk membedah kualitas intelektual, relasi, hingga kemampuan public speaking para calon.
”Kita mendalami visi-misi mereka, apakah betul-betul menjiwai atau tidak. Wawasan kebangsaan juga menjadi parameter utama karena level Ketua DPD itu setara dengan tokoh daerah lainnya. Kita ingin pemimpin yang paham fungsi ormas, AD/ART, dan sejarah PBB,” ujar Ketua Panitia Musda I, Johannes NW Panjaitan, A.Md.P., CPM.
Untuk menjaga marwah organisasi dan objektivitas hasil, panitia menghadirkan penguji independen dari kalangan akademisi, yakni St. Dr. Ir. Drs. Edison Hatoguan Manurung, ST. MT. MM. MH, IICD, CST, BFA, CSE. “Penguji sangat independen dan tidak mengenal kedua calon. Soal-soal pun diundi langsung di lokasi untuk memastikan 100 persen tidak ada kebocoran soal. Hasilnya dipastikan objektif,” tambah Johannes.
Dalam wawancaranya, Johannes NW Panjaitan menekankan pentingnya sosok pemimpin yang bijaksana atau dalam bahasa Batak disebut Parbahul-bahul Nabolon. Ia berharap ketua terpilih nantinya memiliki hati yang lapang, tidak mudah tersinggung oleh kritik, dan mampu merangkul semua kelompok serta marga tanpa membeda-bedakan latar belakang profesi.
”PBB adalah organisasi sosial. Kita butuh perpaduan antara orang yang punya kemauan, kemampuan akademis, dan kemampuan ekonomi. Pemimpin terpilih nanti harus bisa menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat—the right man behind the gun,” tegasnya.
Meski secara teknis panitia telah siap, Johannes secara jujur mengakui adanya tantangan dari segi pendanaan yang belum mencukupi. Hal ini kemungkinan akan berdampak pada pembatasan jumlah delegasi dari DPC dan PAC yang hadir di puncak acara Musda nanti.
Namun, antusiasme kader dinilai sangat tinggi, terbukti dengan adanya lebih dari 250 peserta yang menyimak proses uji kelayakan melalui aplikasi Zoom secara sabar dari awal hingga akhir.
Menutup keterangannya, Johannes berpesan agar seluruh kader tetap konsisten dan tidak mudah meninggalkan organisasi saat terjadi masalah. Ia mengibaratkan PBB sebagai sebuah rumah yang harus diperbaiki jika ada kerusakan, bukan justru ditinggalkan atau dijelek-jelekkan di luar.
”Jangan tanya apa yang PBB berikan untuk saya, tapi apa yang bisa saya berikan untuk PBB. Mari jadikan PBB organisasi yang punya daya juang dan daya pikat bagi masyarakat luas,” pungkasnya didampingi Sekretaris Panitia, Bapak Sahata Alexander Simanjuntak, S.H., dan Bendahara, Ibu Rosdiana Tampubolon.
Wartawan Media Suara Mabes Kota Tangerang
-Saud.M.Marbun.



